Pages

Minggu, 03 April 2011

Laporan I Morfologi Tumbuhan - Daun Lengkap & Daun Tidak Lengkap

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ilmu tumbuhan pada waktu sekarang telah mengalami kemajuan begitu pesat, hingga bidang-bidang pengetahuan yang semula merupakan hanya cabang-cabang ilmu tumbuhan saja, sekarang ini telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri-sendiri.
Dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang sekarang telah berdiri sendiri adalah Morfologi Tumbuhan. Morfologi tumbuhan hanya mempelajari bentuk dan susunan tubuh tumbuhan pun sudah demikian pesat perkembangannya hingga dipisahkan menjadi morfologi luar saja dan morfologi tumbuhan atau lebih dikenal dengan Anatomi tumbuhan.
Menurut definisinya, morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tumbuhan saja tetapi juga bertugas menentukan apakah fungsi masing-masing bagian dari tumbuhan tersebut.
Karenanya banyaknya jenis tumbuhan dan banyaknya bentuk daun baik daun lenkap dan daun tidak lengkap, maka perlunya mempelajari bagaimana sajakah bentuk dan pembagiannya.

B. Tujuan :
Adapun tujuan dalam praktikum ini yaitu mengetahui dan mengenal bagian-bagian daum serta membedakan daun lengkap dan daun tidak lengkap.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Caladium bicolor
A. Morfologi
Caladium bicolor (Keladi dua warna) adalah salah satu tumbuhan yang berdaun lengkap atau folium completus karena memiliki pelepah daun (vagina), tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio bentuknya menyerupai sebuah perisai atau peltatus. Daging daun atau Intervenium nya bersifat seperti kertas atau papyraceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya bersifat menjari atau palminervis. Tepi daun atau margo folii nya bersifat berombak atau repandus. Ujung daun atau apex folii nya bersifat meruncing atau acuminatus. Permukaan daunnya bersifat licin atau laevis.

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Caladium bicolor sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Arales
Family : Araceae
Genus : Caladium
Spesies : Caladium bicolor

C. Ekologi
Keladi dapat tumbuh pada daerah yang beriklim tropis dengan curah hujan 250 – 300 mm/tahun. Ketinggian untuk tumbuhan ini yaitu 2 – 3 m/tahun, dengan suhu 25˚C. Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan keadaan tanah yang tidak terlalu kering dan lembab dengan pH 5,5 – 6,5 dan ketinggian 1 – 1.300 m dpl.

D. Nilai medis
Keladi memiliki bagian-bagian yang dapat digunakan sebagai obat yaitu, umbi dari keladi memiliki khasiat sebagai obat bengkak pada jari tangan. Kandungan kimia yang terdapat pada keladi yaitu pada daun terdapat saponin, pada rimpang terdapat flavonoida, dan juga mengandung polifenol.

E. Nilai komersial
Keladi banyak digunakan sebagai tanaman hias maka dari kegunaan tersebut dapat dimanfaatkan dan dengan nilai jual yang tinggi mencapai Rp.20.000,00 – Rp.30.000,00/pot. Namun karena penyebarannya yang masih sangat sempit diseluruh dunia maka keladi hanya terkenal di derah tertentu saja, yang sebnarnya pertumbuhan tumbuhan ini dapat tumbuh dimanan saja. Selain itu, keladi itu bisa dikatakan sudah tidak memilki nilai jual atau nilai komersial lagi karena makin mudahnya masyarakat mendapatkannya tanaman ini khususnya di Indonesia.

2.2 Musa Paradiasiaca
A. Morfologi
Musa Paradiasiaca (pisang) adalah satu tumbuhan yang berdaun lengkap atau folium completus karena memiliki pelepah daun (vagina), tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini pula memiliki sifat daun yaitu bangun daunya atau circumscriptio berbentuk seperti jorong atau ovalis. Daging daun atau intervenium nya bersifat seperti kertas atau papyraceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk bertulang menyirip atau penninervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk runcing atau acutus. Permukaan daunnya berbentuk licin dan berselaput lilin atau laevis pruinosus.

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Musa paradiasiaca sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Family : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradiasiaca

C. Ekologi
Temperatur optimum untuk pertumbuhan pisang adalah pada suhu 27 – 38 ˚C. Pisang tumbuh baik di daerah beriklim tropika dengan curah hujan 200 – 220 mm/tahun. Kelembaban tanah berkisar 60 – 70 %.
Pada daerah tropis, pisang masih dapat tumbuh pada ketinggian hingga 1.600 m dpl dan menyukai matahari langsung. Pisang toleran pada pH 4,5 – 7,5.

D. Nilai medis
Pisang memiliki banyak nilai medis. Pisang kaya akan mineral seperti kalium, magnesium, pospor, dan zat besi yang hampir seluruhnya dapat diserap oleh tubuh. Pisang juga mengandung provitamin A, vitamin C, B dan seratomin yang aktif sebagai neurot transmitter dalam melancarkan fungsi otak.
Cairan yang dihasilkan oleh batang pisang digunakan untuk mengobati saluran kencing, disentri, dan diare bahkan untuk mengobati kebotakan. Jika dikonsumsi secara rutin dapat menyembuhkan penyakit maag, darah tinggi, dan berfungsi juga sebagai anti radang.

E. Nilai komersial
Berdasarkan cara konsumsi buah pisang, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja deasert dan pisang olah plantain cooking banana. Harga pisang dipasaran berkisar antara Rp.10.000,00 – Rp.15.000,00 /sisir.
Selain buahnya, daun dan batang pisang juga memilki nilai komersial, seperti contoh daun pisang yang telah dibersihkan lalu dijual yang biasanya digunakan untuk membungkus makanan. Batang pisang juga dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak yang bila dijual akan mendapatkan keuntungan yang lumayan.

2.3 Calotropis gigantea
A. Morfologi
Calotropis gigantea (Biduri) adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti jorong atau ovalis. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk bertulang menyirip atau penninervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk berlekuk atau emarginatus. Permukaan daunnya berbentuk berbulu halus dan rapat atau villosus.

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Calotropis gigantea sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Gentianales
Family : Asclepiadaceae
Genus : Calotropis
Spesies : Calotropis gigantea

C. Ekologi
Tumbuh pada habitat yang tidak tergenang air, pantai berpasir dan lahan berbatu, hingga ketinggian sekitar 300 m dpl. Di Bali dijumpai mulai pada daerah pantai yang gersang dan udaranya panas hingga ke lereng gunung Agung yang suhu udaranya sejuk. Umumnya dijumpai di lahan-lahan pantai yang terbengkalai dan terbuka (mendapat sinar matahari penuh).

D. Nilai medis
Pada biduri sendiri belum banyak diketahui karena belum adanya penilitian dari tumbuhan tersebut.

E. Nilai komersial
Pada biduri sendiri tidak mempunyai nilai komersial karena dapat dijumpai di banyak tempat.

2.4 Ipomea pes-caprae
A. Morfologi
Ipomea pes-caprae (tapak kuda) adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti bulat atau orbicularis. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk tulang melengkung atau cervinervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya bersifat meruncing atau acuminatus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk tumpul atau obtusus.

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Ipomoea pes-caprae sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Monocotyledineae
Ordo : Solanales
Family : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea pes-caprae

C. Ekologi
Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 600 m dpl, biasanya di pantai berpasir, tetapi juga tepat pada garis pantai, serta kadang-kadang pada saluran air, dan kebanyakan hidup pada daerah tropis.

D. Nilai medis
Tapak kuda yang merupakan famili Convolvulaceae ini sebenarnya digunakan sebagai tanaman obat sejak zaman dulu kala. Di beberapa negara, tapak kuda atau disebut juga beach morning glory, digunakan untuk mengatasi peradangan dan mengatasi rasa sakit.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tapak kuda mengandung glochidone, asam betulinic, alfa dan beta amyrin asetat, serta isoquercitrin. Pada tanaman tersebut juga terdapat antinociceptive, yang berguna mengatasi rasa sakit berlebihan.
Antinociceptive akan beraksi seperti hidroalkoholik, yang mampu mengurangi rasa sakit. Dengan kandungan tersebut, tapak kuda kerap digunakan untuk meredakan nyeri persendian atau pegal otot. Selain itu, tanaman ini juga digunakan sebagai pereda sakit gigi dan pembengkakan gusi.

E. Nilai komersial
Pada tapak kuda sendiri tidak mempunyai nilai komersial karena dapat dijumpai di banyak tempat.

2.5 Jatropha gossyfifolia
A. Morfologi
Jatropha gossyfifolia (Jarak merah) adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti bulat atau orbicularis. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya bersifat menjari atau palminervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk berbagi menjari atau palmatipartitus. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk berlekuk atau emarginatus. Permukaan daunnya serasa gundul atau glaber.

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Jatropha gossyfifolia sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Malphigiales
Family : Euphorbiceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha gossyfifolia

C. Ekologi
Tanaman jarak merah merupakan salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Tanaman jarak dapat tumbuh pada keadaan tanah yang kurang subur, tetapi memiliki pengaliran air atau kadar air yang cukup dan mempunyai kadar tanah dengan pH antara 5,0 – 6,5 dengan keadaan suhu sekitar 31˚C dan dengan batas hidup pada ketinggian 500 m dpl.

D. Nilai medis
Tanaman jarak merah biasanya digunakan untuk mengobati luka pada tubuh. Biji dan cangkang jarak merah mengandung 20 – 40 % minyak nabati. Namun bagian inti biji cangkang dapat mengandung 45 – 60 % minyak kasar. Berdasarkan analisis terhadap komposisi asam lemak dari 11 provanas jarak merah, diketahui bahwa asam lemak paling dominan adalah oleat dan asam linoleat.

E. Nilai komersial
Pemanfaatan minyak dari tanaman jarak sebagai bahan bakar alternatif ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak peghe atau pengunaan cadangan devisa.


BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
- Hari/Tanggal : Sabtu/26 Maret 2011
- Pukul : 13.00 Wita – 17.30 Wita
- Tempat : Lab. Biodeversity Biologi FMIPA UNTAD

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum morfologi tumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Buku gambar
2. Alat tulis menulis
3. Daun Caladium bicolor
4. Daun Musa paradiasiaca
5. Daun Calotropis gigantea
6. Daun Jatropha gossyfifolia
7. Daun Ipomea pes-caprae

C. Prosedur kerja
1. Menulis nama spesies dan family tumbuhan tersebut
2. Mengambarkan dan memberi keterangan bagian-bagiannya
- Helaian daun (lamina)
- Tangkai daun (petiolus)
- Upih daun (vagina)
3. Menentukan :
- Circumscriptio
- Basis
- Intervenium
- Margo
- Apex
- Nervatio
- Permukaan daun


BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
No. Gambar Keterangan
1. Spesies : Caladium bicolor
Family : Araceae
Folium completus
1. Lamina
2. Vagina
3. Petiolus
Circumscriptio : Peltatus
Intervenium : Papyraceus
Nervatio : Palminervis
Margo folii : Repandus
Apex folii : Acuminatus
Permukaan daun : Laevis

2. Spesies : Musa paradiasiaca
Family : Musaceae
Folium completus
1. Lamina
2. Vagina
3. Petiolus
Circumscriptio : Ovalis
Intervenium : Papyraceus
Nervatio : Penninervis
Margo folii : Integer
Apex folii : Acutus
Basis folii : Acutus
Permukaan daun : Laevis pruinosus

3. Spesies : Calotropis gigantea
Family : Ascolepiadaceae
Folium incompletus
1. Lamina
Circumscriptio : Ovalis
Intervenium : Herbaceus
Nervatio : Penninervis
Margo folii : Integer
Apex folii : Acutus
Basis folii : Emarginatus
Permukaan daun : Villosus

4. Spesies : Jatropha gossyfifolia
Family : Euphorbiaceae
Folium incompletus
1. Lamina
2. Petiolus
Circumscriptio : Orbicularis
Intervenium : Herbaceus
Nervatio : Palminervis
Margo folii : Palmatipartitus
Apex folii : Acutus
Basis folii :Emarginatus
Permukaan daun : Glaber

5. Spesies : Ipomea pes-caprae
Family : Convolvulceae
Folium incompletus
1. Lamina
2. Petiolus
Circumscriptio : Orbicularis
Intervenium : Herbaceus
Nervatio : Cervinervis
Margo folii : Integer
Apex folii : Acuminatus
Basis folii : Retusus
Permukaan daun : Laevis

B. Pembahasan
- Caladium bicolor
Caladium bicolor yang biasanya disebut keladi adalah satu tumbuhan yang berdaun lengkap atau folium completus karena pada daun ini memiliki pelepah daun atau vagina, tangkai daun atau petioulus dan helaian daun atau lamina. Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio bentuknya menyerupai sebuah perisai atau peltatus dan mempunyai tangkai daun yang tidak tertanam pada pangkal daun, melainkan pada bagian tengah helaian daun. Daging daun atau Intervenium nya bersifat seperti kertas atau papyraceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya bersifat menjari atau palminervis. yaitu kalau dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan. Tepi daun atau margo folii nya bersifat berombak atau repandus yaitu sinus dan angulus sama-sama tumpul. Ujung daun atau apex folii nya bersifat meruncing atau acuminatus yaitu pada ujung yang runcing, tetapi titik pertemuan kedua daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan. Sedangkan pada permukaan daunnya bersifat licin atau laevis.

- Musa Paradiasiaca
Musa Paradiasiaca atau yang biasanya kita sebut dengan pisang adalah satu tumbuhan yang berdaun lengkap atau folium completus karena memiliki pelepah daun atau vagina, tangkai daun atau petioulus dan helaian daun atau lamina. Tanaman ini pula memiliki sifat daun yaitu bangun daunya atau circumscriptio berbentuk seperti jorong atau ovalis yaitu jika perbandingan panjang : lebar = 1 ½ - 2 : 1. Daging daun atau intervenium nya bersifat seperti kertas atau papyraceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk bertulang menyirip atau penninervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus yaitu jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuanya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk runcing pula atau acutus. Sedangkan pada permukaan daunnya berbentuk licin dan berselaput lilin atau laevis pruinosus.

- Calotropis gigantea
Calotropis gigantea atau yang biasanya kita sebut dengan biduri atau roviga adalah salah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti jorong atau ovalis yaitu jika perbandingan panjang : lebar = 1 ½ - 2 : 1. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk bertulang menyirip atau penninervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus yaitu jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuanya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk berlekuk atau emarginatus. Sedangkan pada permukaan daunnya berbentuk berbulu halus dan rapat atau villosus.

- Ipomea pes-caprae
Ipomea pes-caprae atau yang biasanya kita sebut tapak kuda adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti bulat atau orbicularis yaitu jika panjang : lebar = 1 : 1. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya berbentuk tulang melengkung atau cervinervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk rata atau integer. Ujung daun atau apex folii nya bersifat meruncing atau acuminatus yaitu pada ujung yang runcing, tetapi titik pertemuan kedua daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk tumpul atau obtusus. Sedangkan pada permukaan daunnya bersifat licin atau laevis.

- Jatropha gossyfifolia
Jatropha gossyfifolia atau yang biasanya kita sebut dengan jarak merah adalah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap atau folium incompletus karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Tanaman ini memiliki sifat daun yaitu bangun daun atau circumscriptio nya berbentuk seperti bulat atau orbicularis yaitu jika panjang : lebar = 1 : 1. Daging daun atau intervenium nya bersifat tipis lunak atau herbaceus. Susunan tulang-tulang atau nervatio nya bersifat menjari atau palminervis. Tepi daun atau margo folii nya berbentuk berbagi menjari atau palmatipartitus yaitu jika tepi berbagi, sedang daunnya mempunyai susunan tulang yang menjari. Ujung daun atau apex folii nya berbentuk runcing atau acutus yaitu jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuanya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip. Pangkal daun atau basis folii nya berbentuk berlekuk atau emarginatus Sedangkan pada permukaan daunnya serasa gundul atau glaber.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, maka kami berkesimpulan bahwa yang dikatakan sebagai daun lengkap adalah jika daun tersebut memiliki helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan upih daun (vagina), contohnya seperti pada keladi dua warna atau Caladium bicolor dan pisang atau Musa paradiasiaca, tetapi jika salah satu dari ketentuan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai daun lengap melainkan dengan kata lain disebut daun tidak lengkap contonya seperti jarak merah atau Jatropha gossyfifolia, tapak kuda atau Ipomea pes-caprae dan biduri atau Calatropis gigantea.

B. Saran
Saya mengharapkan kepada asisten agar dapat membantu praktikannya dalam sebuah praktikum agar dalam praktikum itu sendiri tidak terjadi kesalahan sama sekali.

1 komentar:

Arasy Hasan mengatakan...

saya mau nanya :
1. ada tumbuhan lain nggak selain itu , yg memiliki daun lengkap ?

2. bagaimana cara membedakan daun lengkap dan tidak , yg mudah ?

terimakasih

Poskan Komentar